PENGEMBANGAN DAN EFEKTIFITAS BAHAN AJAR LAJU REAKSI DENGAN PENDEKATAN INKUIRI TERBIMBING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI PESERTA DIDIK SMA
DOI:
https://doi.org/10.47239/jgdd.v1i2.76Keywords:
Bahan ajar laju reaksi, SMA, inkuiri terbimbing, kemampuan berpikir tingkat tinggiAbstract
Tujuan penelitian pengembangan adalah menghasilkan bahan ajar materi laju reaksi dengan pendekatan Inkuiri Terbimbing yang layak dan efektif diterapkan pada pembelajaran kimia serta mengetahui persepsi peserta didik terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Metode pengembangan bahan ajar menggunakan model 4D dari Thiagarajan dkk (1974), tetapi tanpa tahap keempat. Hasil penilaian para ahli menyatakan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan sangat layak pada aspek isi dan media serta layak pada aspek keterbacaan. Pada uji efektivitas menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik dibanding bahan ajar lain. Secara umum peserta didik memberikan respons positif terhadap bahan ajar hasil pengembangan.
References
Akbar, Sa’dun. (2013). Instrumen Perangkat Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya
Aksela. M. (2005). Supporting Meaningful Chemistry Learning and Higher-Order Thinking Throgh Computer-Assisted Inquiry: A Design Research Approach.
Bloom, B. S, Engelhart, M. D, Furst, E. J, Hill, W. H & Krathwohl, D. R, (1956). Taxonomy of educational objectives: Handbook I: Cognitive domain. New York: David McKay
Direktorat Tenaga Kependidikan. (2008). Panduan Penulisan Modul. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dirjen Pengembangan SMA. (2010). Petunjuk Teknis Pengembangan Bahan Ajar SMA. Jakarta: Depdiknas
Fitria, C, D, Muntholib, & Aman. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Materi Larutan Penyangga, Hidrolisis Garam, Dan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Menggunakan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E Untuk Siswa SMA/ MA. Jurnal elektronik Universitas Negeri Malang 2 (2)
Gafur, A. (1994). Desain Instruksional.
Bandung: Citra Aditya Bakti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
(2013). Peraturan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan No.69 Tahun 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Llewellyn, D. (2005). Teaching High School Science Through Inquiry. California: Corwin Press.
Prananda, O. (2013). Menggali Pemahaman Peserta didik Sma Pada Konsep Laju Reaksi Dengan Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM.
Putri, Y. M. D. (2013). Pengaruh Metode Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (High Order Thinking Skill) Peserta
didik Kelas X SMA Negeri 1 Malang Pada Pokok Bahasan Hidrokarbon. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM
Thiagarajan, S., Dorothy, S., Melvyn, I., & Semmel. (1974). Instructional Development for training Teachers Of Exceptional Children. Blomington Indiana: Indiana University.
Vlassi, M., & Karaliota, A. (2013). The Comparison Between Guided Inquiry and Traditional Teaching Method. A Case Study for The Teaching of The Structure of Matter to 8th Grade Greek Students. Procedia – Social and Behavioral Science, Vol.93: 494-497.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2020 Diah Purwaningtyas (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.




