MODEL PEMBELAJARAN SEKOLAH PEDULI ANAK HEBAT (SPAH) BAGI SISWA PENYANDANG DISABILITAS

Authors

  • Normalia Sage SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur

DOI:

https://doi.org/10.47239/jgdd.v1i1.12

Keywords:

inklusif, anak hebat, SPAH, hati, bakat

Abstract

Pemerintah mencanangkan pendidikan inklusif sesuai Permendiknas Nomor 70 tahun 2009. Siswa penyandang disabilitas dapat belajar di sekolah umum. Pendidikan inklusif menghadapi tantangan diantaranya kompetensi guru, sumber kurikulum yang kurang dan orang tua yang kurang puas, sehingga pendidikan inklusif berkembang sesuai dengan gaya dan kemampuan masing-masing lembaga. Ada yang lebih berfokus pada peningkatan skill kerja siswa penyandang disabilitas, ada juga yang meningkatkan kemampuan akademik sesuai kebutuhan mereka. Tulisan ini memaparkan pengembangan suatu inovasi pembelajaran inklusif alternatif yang berbasis passion siswa penyandang disabilitas di SMA. Sistem pendidikan yang dikembangkan ini fleksibel mengikuti bakat dan minat siswa dengan nama model pembelajaran Sekolah Peduli Anak Hebat (SPAH). SPAH memiliki lima model pembelajaran yakni Religious-Emotional-Social-Health- Supporting (RESHES); Sport-Art-Entrepreneur (SAE); Career Class (CC); Fun Academic (FA); dan Parent Society (PS) yang 50% berfokus pada peningkatan potensi hati dan 30% potensi fisik dan 20% potensi akal pada pengembangan bakat-minat, karakter dan akademik anak hebat.

Abstract Views: 454PDF Downloads: 1097

References

Bowman, I. (1986). Teacher Training and the Integration of Handicapped Pupils: Some Findings from a Fourteen Nation UNESCO Study. European Journal of Special Needs Education, 1, pp 29-38.

Center, Y., & Ward, J. (1987). Teachers’ Attitudes towards the Integration of Disable Children into Regular Schools. The Exceptional Child, 34, pp 41-56.

Ford, J.. (2013). Educating Students with learning Disabilities in Inclusive Classrooms. Electronic Journal for Inclusive Education Vol. 3, No.1 Hurlock, E.B. (1990). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kalfus, G. R. (1984). Peer-mediated Instruction: A Critical Review. Child Development and Family Behavior Therapy, 6, 17-43.

Konza, D. (2002). Review of Special Educational Services. Engadine, NSW: St John Bosco College.

McLeskey, J. & Waldron, N. L. (2011). Educational Programs for Elementary Students with Learning Disabilities: Can They be both Effective and Inclusive? Learning Disabilities Research & Practice, 26, 48-57.

Permendiknas No. 70. (2009). Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Schumm, J., & Vaughn, S. (1992). Plans for Mainstreamed Special Education Students: Perceptions of General • / 5 PS (Parent Society 4 FA 1. RESHES (Rel1g1us-Emot1onalSoc1al- HealthSupporting) 2 SAE (Sport, Art and Entrepreneur) ) (Fun Academic) 3 cc (Career Class) Jurnal Guru Dikmen dan Diksus 11 Education Teachers. Exceptionality, 3(2), pp 81-96.

Smith, J. D. (2012). Konsep dan Penerapan Pembelajaran Sekolah Inklusif. Bandung: Penerbit NUANSA

Vaughn, S., Elbaum, B.E., Schumm, J.S. and Hughes, M.T. (1998). Social Outcomes for Students with and without Learning Disabilities in Inclusive Classrooms. Journal of Learning Disabilities, 31, 428-436.

Westwood, P. & Graham, L. (2003). Inclusion of Students with Special Needs: Benefits and Obstacles Perceived by Teachers in New South Wales and South Australia. Australian Journal of Learning Disabilities, 8(1), pp 3-15.

Wills, D., & Jackson, R. (2000). Report Card on Inclusive Education in Australia. Interaction, 14, pp 5-12.

Downloads

Published

2020-07-23

How to Cite

Sage, N. . (2020). MODEL PEMBELAJARAN SEKOLAH PEDULI ANAK HEBAT (SPAH) BAGI SISWA PENYANDANG DISABILITAS. Jurnal Guru Dikmen Diksus, 1(1), 1-11. https://doi.org/10.47239/jgdd.v1i1.12
1-10 of 18

You may also start an advanced similarity search for this article.